Pengalaman WNI yang Menjalani Isoman di Korea Selatan, Seketat Itu!

access_time 1 minggu yang lalu

Seorang WNI menceritakan pengalamannya menjalani isoman di Korea Selatan, bansos lancar

Seorang WNI, Mutia (27), menceritakan pengalamannya menjalani isoman di Korea Selatan. Ia juga memaparkan bagaimana suasana pandemi Covid-19 di Korea Selatan (Korsel) saat ini.

Pemerintah Korsel sendiri membagi tingkat pandemi ke dalam beberapa level, mulai dari level 1-4. Saat ini warga korsel lagi menjalani social distancing dengan level 4, tertinggi.

Beberapa peraturan diterapkan untuk membatasi pergerakan sosial masyarakat. Karena sekarang pembatasannya meningkat, pada level 4 mulai dari pukul 18.00 waktu setempat, satu meja cuma boleh terisi maksimal 2 orang untuk makan malam.

Beda halnya waktu pandemi pada level 2-3, 4 orang masih boleh makan dalam satu meja dan maksimal dine-in jam 9 malam. Durasi untuk mengunjungi sebuah restoran, atau cafe, juga terbatas hanya mencapai 60-80 menit.

Pakai aplikasi untuk pantau warga isoman

Awalnya Mutia membagikan cuitannya gara-gara ia terbangun pas petugas Covid-19 menelfonnya. Karena cuitan tersebut, banyak yang mengira Muti lagi positif Covid-19.

Sebenarnya ia sudah menjalani tes dan keluar hasil negatif, namun karena ia habis kontak dengan seseorang yang ternyata terpapar Covid-19, ia tetap harus menjalani isoman.

Hal ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Korea, seseorang yang kontak dengan seseorang yang terpapar Covid-19 harus tetap karantina selama 2 minggu.

Lantaran sebuah virus dalam tubuh seseorang membutuhkan waktu untuk berkembang, jadi tetap harus karantina.

Selama menjalani isoman atau karantina, petugas Covid-19 sekitar sudah mulai memantau dan berkali-kali menghubunginya. Seperti memberi tahu tanggal pasti kapan harus mulai karantina, dari kapan sampai kapan, hingga pulang ke rumah naik apa.

Petugas Covid-19 korsel juga menyuruhnya untuk mendownload aplikasi “safety protection for people who does self quarantine”. Lewat aplikasi tersebut, mereka akan memantu pergerakan orang yang lagi isoman.

Gak cuma itu, ia juga harus mengisi laporan harian seperti suhu, gejala, hingga data diri. Pokoknya yang lagi menjalani isoman gak akan bisa kemana-mana karena terpantau lewat aplikasi tersebut.

Bahkan petugasnya juga suka menelfon untuk menanyakan kondisi, kalau emang gak diangkat, petugasnya gak akan segan untuk nyamperin langsung.

Bansos covid-19 Korsel vs Indonesia

Selama menjalani isoman, kebutuhan dasar warganya juga akan terpenuhi. Ia bisa memilih ingin mendapat uang 100,00 won (Rp 1,265 juta) atau sembako seharga 100.000 won untuk kebutuhan selama isoman.

Gak cuma itu, mereka juga mengirim masker, plastik sampah, dan peralatan lainnya. Jika memilih sembako, isinya kebanyakan berupa makanan-makanan instan.

Sama halnya dengan bantuan sosial di Indonesia, khususnya Jakarta, berdasarkan laman resmi corona.jakarta.go.id, ada dua skema penyaluran bansos tunai bagi warga DKI Jakarta.

Pertama penyaluran dilakukan oleh pemerintah pusat, alokasi dana bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan disalurkan lewat PT Pos Indonesia (Persero).

Skema kedua adalah penyaluran bantuan sosial oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menggunakan alokasi APBD. Bansos tunai yang disalurkan adalah sebesar Rp 300 ribu perbulan, melalui rekening Bank DKI.

 

close

Pengalaman WNI yang Menjalani Isoman di Korea Selatan, Seketat Itu!

Search
close