Ragukan Bahaya Covid-19, Anji Dikritik Gugus Tugas

Foto Jenazah Korban Covid-19 Jadi Perbincangan Jagat Maya (ANTARA FOTO/RAHMAD)
access_time 1 tahun yang lalu

Jubir Gugus Tugas tanggapi Anji yang meragukan bahaya covid-19

Kamis (16/7) lalu, seorang fotografer bernama Joshua Irwandi jadi pembicaraan di jagat maya. Fotografer National Geographic tersebut mengabadikan foto jenazah pengidap covid-19 yang selama ini luput dari perhatian publik.

Foto tersebut pun viral, dan di repost oleh sejumlah sosok public figure yang ingin meningkatkan kewaspadaan publik terhadap pandemi corona. Namun hal tersebut direspon dengan nada keraguan oleh Anji.

View this post on Instagram

To photograph the victims of coronavirus in Indonesia is the most heartbreaking, most eerie photography I have ever done. In my mind at the time I only thought what happened to this person may well happen to people I love, people we all love. I’ve witnessed first hand how the doctors and nurses are continuously risking their lives to save ours. They are the true heroes of this story, and the only way to appreciate their work is to follow what they advise us. We felt it was absolutely crucial that this image must be made. To understand and connect to the human impact of this devastating virus. The image is published here today as a reminder and a warning, of the ever looming danger. To inform us of the human cost of coronavirus and how world governments have let matters get so far. As we head towards the second wave of the pandemic, people must realise they cannot take this matter lightly. This photograph accompanies an article that appears in the National Geographic Magazine @natgeo in the new upcoming August 2020 issue. LINK IN BIO. It is also the first time I’d see the image in print. There are many people to thank, most notably @kayaleeberne, in which this is the first print NG story she edited; @jamesbwellford for reacting on the story from early on; @andritambunan, @kkobre, and @paullowephotography for their advice; and last but not least my mentor @geertvankesterenphoto for his unrelenting support since day one. I would like to dedicate this to the medical staff – whose selfless efforts allow us to continue to live. I am truly humbled to be in their midst countering this pandemic. And to my late Uncle Felix who, two years before he passed away earlier this year, sent me an email: ‘Keep on taking pictures and never fail to report to let the world know what has really happened.’ Please share this story and please act. This is the pandemic of our lifetime. We must win this battle. Supported by the @forhannafoundation and @insidenatgeo COVID-19 Emergency Fund for Journalist. @natgeointhefield #natgeo #joshuairwandi #natgeoemergencyfund #documentaryphotography #photography #covid19 #covidstories #nationalgeographicsociety #pandemic #stayathome

A post shared by Joshua Irwandi (@joshirwandi) on

“(Covid-19) semengerikan itu”

Setidaknya ada dua kejanggalan yang disoroti Anji: banyaknya akun ber-follower besar yang mengunggah ulang foto tersebut dengan caption seragam dengan pola yang serupa dan mengapa seorang fotografer diperbolehkan menemui korban covid-19 sementara pihak keluarga malah tidak diperbolehkan.

Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh,” tulisnya di kolom komentar.

View this post on Instagram

• Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban cvd. Tapi ada beberapa kejanggalan. 1. Tiba-tiba secara berbarengan foto ini diunggah oleh banyak akun-akun ber-follower besar, dengan caption seragam. Sebagai orang yang familiar dengan dunia digital, buat saya ini sangat tertata. Seperti ada KOL (Key Opinion Leader) lalu banyak akun berpengaruh menyebarkannya. Polanya mirip. Anak Agency atau influencer/buzzer pasti mengerti. 2. Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang Fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh. Saya percaya cvd itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil. EDIT : saya menulis cvd karena malas menulis covid

A post shared by Anji MANJI (@duniamanji) on

Meski begitu, ia tidak membantah bahwa covid-19 itu benar-benar ada.

Saya percaya (covid-19) itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa (covid-19) semengerikan itu,” tulis Anji. “Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.”

Tanggapan gugus tugas

Merespon keraguan Anji, jubir gugus tugas corona Achmad Yurianto.

Biar saja. Apakah 2 juta followersnya kanak-kanak yang enggak punya pertimbangan rasional?” kata Yuri dilansir dari Kumparan, Senin (20/7).

Ia menilai, keraguan Anji tersebut ia utarakan untuk mendorong popularitas.

Kita akan membantu popularitasnya. Kepancing semua. Coba pikir sekarang di saat mulai tidak populer, apa yang akan dilakukan?” ujar Dirjen P2p Kemenkes itu.

View this post on Instagram

Halo #SahabatTangguh, Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Dokter Reisa Broto Asmoro menegaskan bahwa obat Dexamethasone bukan penangkal COVID-19 dan bukan vaksin. Dokter Reisa menambahkan bahwa pemakaian obat-obat steroid seperti Dexamethasone hanya dibolehkan dalam pengawasan ahli, para dokter, dan dilakukan di sarana dengan fasilitas yang memadai, tentunya yang siap untuk menangani efek samping yang dapat terjadi. Dokter Reisa juga mengatakan bahwa Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM akan memantau peredaran Dexamethasone. Meski kita telah mendengar beberapa berita baik kemajuan dunia kesehatan, baik dalam negeri, maupun dari luar negeri, WHO sampai saat ini belum menentukan obat atau regimen data kombinasi pengobatan yang tetap untuk perawatan pasien COVID-19 Saat ini WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tetap menganjurkan agar masyarakat dapat mengikuti selalu petunjuk dari dokter. Maka dari itu, pesan Dokter Reisa adalah kita tidak boleh mengobati diri sendiri, hindari penggunaan antibiotik dengan tidak tepat juga, karena dapat menyebabkan resistensi terhadap jenis antibiotik yang dikonsumsi tersebut, dan sekali lagi, belum ada pengobatan COVID-19 sampai saat ini yang dapat mencegah. Jadi #SahabatTangguh hingga saat ini cara terbaik untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 antara lain menjaga jarak, menggunakan masker serta cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesering mungkin minimal 20 detik. Jangan mudah untuk terbawa kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait mengkonsumsi obat-obatan ya! Tetap selalu konsultasikan dengan layanan kesehatan setempat untuk mendapatkan perawatan yang tepat sesuai kebutuhan. Informasi selengkapnya kunjungi link di bio @bnpb_indonesia atau bnpb.go.id. #BersatuLawanCovid19

A post shared by BNPB Indonesia (@bnpb_indonesia) on

Yuri juga menuturkan bahwa publik sudah cerdas dan mengerti bahaya covid-19. Ia mencontohkan beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Apakah masyarakat kita sedemikian bodohnya? Apakah ini hal pertama terjadi? Kita masih ingat orang nyentrik dari Surabaya, terus influencer perempuan. Apa ada yang ngikuti?” tutup dia.

close

Ragukan Bahaya Covid-19, Anji Dikritik Gugus Tugas

Search
close