close

Pemerintah Sudan Secara Brutal Membantai Pemrotes Selama Internet Blackout

By Andreas Lee
access_time 1 tahun yang lalu Comments

Warga Sudan saat ini hidup dalam ketakutan dan kekerasan karena tindakan brutal dari militer kepada pemrotes selama pemadaman internet di Sudan. Dilansir dari BuzzfeedNewstindakan brutal yang dilakukan oleh para tentara milliter menyebabkan setidaknya 100 orang meninggal dunia, 600 orang luka-luka, 120 orang dinyatakan hilang.

Bermula pada warga Sudan yang melakukan protes pada Desember 2018 pada masa pemerintahan Presiden Hassan al-Bashir selama 30 tahun yang berhasil digulingkan pada tanggal 11 April 2019. Namun tentara Sudan mengambil alih dan telah memerintah sejak saat itu. Para demonstran pro-demokrasi kemudian kembali melakukan protes dan ingin agar kekuasaan diserahkan kepada warga sipil.

Para demonstran melakukan kampanye selama hampir seminggu di luar markas tentara di Khartoum, yang akhirnya para jenderal yang memimpin Sudan memutuskan untuk mematikan seluruh internet di Sudan. Selama internet blackout, para tentara militer melakukan tindakan brutal untuk mengusir demonstran tersebut.

Ditengah pembantaian yang terjadi di Sudan selama seminggu, netizen Twitter menyinggung banyak media yang tidak sadar dengan apa yang terjadi di Sudan.

Berita ini dibantu oleh para celebirty seperti Rihanna yang membahas krisis yang terjadi di Sudan.

Hingga salah satu beauty influencer bernama @hadyouatsalaam juga membahas krisis yang terjadi di Sudan.

View this post on Instagram

It’s really hard being an influencer and sharing information that is “off brand” and not worthy of the “feed” but I cannot hold this in anymore. I am at my office crying because I have so many emotions in me and I feel horrible. There’s a massacre happening in my country Sudan’s and a media blackout and internet censorship for four consecutive days. There is no objective media sharing what’s going on expect for @aljazeeraenglish which had their offices shot down. My friend @mattar77 was MURDERED by the Rapid Support Forces. My best friend was in hiding on June 2 and that’s the last time I spoke to him. He was missing for 4 days and when I got in touch with him he said: “I was caught, beaten and abused and humiliated and arrested and had my phone confiscated from me. I am injured currently.” And all I could do this post this. I am sorry to all companies I am running campaigns with but my editorial calendar is currently on pause. I am willing to refund all and everything right away. Please, just send me an email. To my followers/supporters who this is too much for I am also sorry but my regularly scheduled content/reviews is also on pause. If this offends you, I am sorry. But I need to speak out and share this in a time like this. If you want to support me please share this information as widely as possible and don’t be silent. Be an ally because we need your help. And tune into my stories for more information. THE INTERNATIONAL COMMUNITY HAS BEEN SILENT. #sudanuprising #sudanese_protest #مجزرة_القيادة_العامة #عيد_شهيد #اعتصام_رويال_كير #اعتصام_القيادة_العامه #السودان @wawa_waffles @sudanuprising.updates #sudanrevolts #sudanuprising #iamsudan #iamsudanrevolution #sudanese #freesudan

A post shared by Shahd | Had You at Salaam (@hadyouatsalaam) on

Setelah terjadinya pembantaian yang dilakukan oleh para milliter ini, para pembangkang demonstran akhirnya sepakat untuk mengakhiri kampanye dan akan melakukan pembicaraan terhadap penguasa militer negara Sudan.

“Aliansi untuk Kebebasan dan Perubahan setuju untuk mengakhiri pembangkangan sipil (kampanye) mulai hari ini,” kata Mahmoud Drir, yang telah menjadi penengah (mediator krisis) di Sudan.

Lets pray for Sudan and hope this crisis will end

Source: cnn.com

close

Pemerintah Sudan Secara Brutal Membantai Pemrotes Selama Internet Blackout