Menghina Budaya Streetwear? – Our Opinion

access_time 2 tahun yang lalu

From 2015 until now, Hypebeast adalah salah satu media yang menjadi salah satu trend leader yang minati oleh banyak orang, membawa brand streetwear kembali kepermukaan, dan lucunya beberapa brand raksasa ternama seperti Gucci, Louis Vuitton, Dior hingga Balenciaga seakan disetir untuk mengikuti streetwear culture yang sedang menguasai pasar.

Dalam setiap trend yang merajalela baik di internet maupun di dunia nyata, pasti menimbulkan banyak kontroversi maupun kritikan untuk mendiskreditkan baik trend ataupun penggunanya. Di bawah ini kami akan membedah beberapa statement yang dilempar oleh Wesley Huang. Here we go!

Disclaimer: “Tidak ada namanya style hypebeast. Hypebeast: A person who follows a trend to be cool or in style. A person who wears what is hyped up. Jadi dia akan mengikuti tren yg lagi keren aja. Misalkan jas harganya puluhan juta pun juga akan dia beli selama itu tren dan dianggap keren. Sebutan yang tepat digunakan untuk dibahas di video ini adalah streetwear. Streetwear itu sudah menjadi culture dan tidak melulu mahal. Brand2 yg disebutkan di video ini ya itu sudah masuknya high end brand. Padahal streetwear juga banyak yg harganya mungkin masih masuk kantong (anda) seperti Stüssy, Champion, Vans, bahkan Nike dan adidas. Kalau masih kemahalan juga, coba cek brand2 lokal.” Jelas Boim Leno pada kolom komen video Wesley Huang.

1. Kualitas yang didapatkan sama dengan harga baju Rp400.000?

Didalam videonya, Wesley Huang mengemukakan sebuah teori bahwa cara mudah untuk mengetahui ciri-ciri hypebeast style adalah desain kaos putih yang ditempel (disablon) dengan logo brand streetwear ternama maka harganya akan melambung tinggi. Statement ini sangat menunjukan bahwa pengetahuannya soal fashion brand cukup minim. Dalam statement-nya di dalam video tersebut mungkin yang ia maksudkan adalah Supreme.

Supreme sendiri sudah berdiri tegak sejak tahun 1994 dan memiliki sejarah yang jelas dan struggle-nya dalam mengayomi komunitas dan mengembangkan budaya streetwear itu sendiri. Dengan konsistensi yang terbangun kurang lebih 25 tahun ini tentu memberikan value yang tidak ternilai. Ditambah lagi research and development process yang memakan waktu dan cukup rumit (khususnya pada koleksi kolaborasi), maka dari itu dengan reputasi yang sudah dibangun dan berbagai macam proses jelas harga yang dijual tidak akan murah. Jangan lupa juga dengan minat pasar yang besar.

Intinya brand streetwear yang sudah berdiri lebih dari 10 tahun bukan lah influencer oportunis yang memiliki sikap “followers gue udah banyak, gue jual kaos polos juga laku.”

 

2. Tidak Sesuai dengan Harganya?

Dirinya juga menambahkan bahwa ia merasa kasihan dengan orang-orang penganut hypebeast style karena membeli barang mahal tetapi tidak mendapatkan hal yang “worth it”. Membeli barang streetwear itu lebih banyak ruginya dibanding untungnya. Statement ini tentu sangat subjektif, dalam arti bahwa setiap orang memiliki seleranya masing-masing dalam menentukan kaos atau bahan yang mereka rasa nyaman saat dipakai.

Mungkin melalui pernyataannya ini, ia lebih menekankan pada produk kaos saja, namun perlu diingat bahwa streetwear bukan hanya kaos oversized atau kaos dengan logo box berwarna merah di tengahnya, streeetwear tentu lebih dari itu. Sangat tidak adil jika menggeneralisasikan semua streetwear hanya dengan satu produk yang pernah di keluarkan. Sebagai contoh Jaket Anorak Supreme x The North Face yang menggunakan bahan Gore-Tex® atau Supreme Nike/NBA Teams Warm-Up Jacket yang menurut kami sangat wajar untuk dihargai kurang lebih Rp6.950.000.

Mengapa wajar? Perhitungkan research and development process yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam memproduksi kolaborasi tersebut, dari market research, trend research, sampai marketing/promotion process. Belum lagi reputasi dan brand value yang dimiliki oleh kedua brand yang berkolaborasi tersebut. Ditambah lagi dengan nilai eksklusivitas yang dapat dimiliki dari produk ini dan jumlah produksi yang terbatas hingga tidak adanya kepastian edisi ini akan diproduksi kembali.

 

3. Orang yang Membeli Barang Hypebeast Adalah Orang Yang Naive

Kembali ditekankan bahwa setiap orang memiliki selera berbeda-beda, mungkin dia berpikir bahwa orang yang membeli barang yang hypebeast style merupakan orang yang naive dan memanfaatkan karakteristik tersebut untuk menguntungkan brand itu sendiri.

Uniknya, ia juga mengatakan orang yang menggunakan barang hypebeast style akan cepat terlihat membosankan sedangkan yang menggunakan jas akan terlihat lebih keren karena pakaiannya yang fit. Menurut kami, selera adalah hal yang tidak bisa diperdebatkan, setiap orang memiliki frame of reference dan field of experience dalam fashion-nya masing-masing dengan tujuan berbeda pula.

What we’re trying to enlighten is this; tidak ada benchmark dalam menentukan selera, karena setiap orang boleh saja menentukan gaya fashion yang ingin mereka gunakan. Lalu, menggeneralisasikan streetwear hanya dengan satu atau dua produk bukanlah hal yang adil ataupun pintar. Sebuah pendapat bisa menjadi kritikan yang positif ketika terdapat dialog yang berangkat dari pengetahuan mendalam terhadap materi yang diangkat, terlebih lagi saat membicarakan suatu budaya.

 

Editorial Team

[email protected]

Edit: A clarification has been made regarding this issue as this article is uploaded, but our message still stands firm.

close

Menghina Budaya Streetwear? – Our Opinion

Search
close