#LocalPride Jadi Bahan Bakar Skena Kreatif Indonesia di Paruh Kedua Dekade 2010

#LocalPride Jadi Bahan Bakar Skena Kreatif Indonesia di Paruh Kedua Dekade 2010
access_time 4 bulan yang lalu

#LocalPride kembali mencuat akhir dekade 2010

Memasuki paruh akhir dekade 2010, skena subkultur Indonesia kian “dikompori” dengan semangat #LocalPride.

Tak hanya sekadar jadi tagar media sosial, #LocalPride pun jadi “bahan bakar” yang mendorong skena kreatif Indonesia ke level baru.

Beda dengan gelombang awal yang banyak dipicu maraknya gelaran marketplace, kini sense of identity subkultur Indonesia pun diperkuat berkat adanya kesadaran publik atas potensi pasar lokal yang mumpuni di level global.

Baca juga: Kanye West dan Gelombang Kedua Sneakers Indonesia

#LocalPride dan masa depan pasar Indonesia

Ada empat sosok yang jadi memperkuat narasi episode terakhir serial The Waves kali ini.

Keempatnya mewakili empat brand besar dari empat industri berbeda yang turut merasakan imbas dari #LocalPride. Mereka adalah Dr. Tirta (Shoes and Care), Yukka (CEO Brodo), Renaldy Morteza dan Ardila Ramadhan (Dominate Jakarta) serta Bernhard Suryaningrat (Never Too Lavish).

Mereka sepakat bahwa meski influence asing punya andil membentuk pasar tanah air, eksplorasi pelaku industri kreatif Indonesia juga berperan besar membentuk pasar Indonesia yang lebih matang.

Matang yang gue maksud adalah ketika lo pake sesuatu tanpa melihat orang lain; lo pake karena emang lo suka, karena lo yakin itu cocok dengan lo,” tutur Ardila.

Bukan karena ‘digoreng si A atau si B’ jadi lo harus punya,” tuturnya.

Itu masa depan yang gue harapkan.”

Baca juga: #LocalPride Lebih dari Sekadar Tagar

Serial The Waves, eksklusif di Vision+

Gelombang kedua #LocalPride ini pun jadi fokus utama episode keenam The Waves, sekaligus jadi penutup seluruh episode.

Untuk tau lebih lanjut, simak episode lengkapnya di Vision+.

close

#LocalPride Jadi Bahan Bakar Skena Kreatif Indonesia di Paruh Kedua Dekade 2010

Search
close